Beberapa waktu yang lalu saya berandai-andai dengan seorang teman, seandainya komputer sudah sangat canggih dan mampu menerima perintah lisan atau voice recognition, apa yang akan terjadi.
Menurut saya, yang terjadi adalah akan banyak email seperti ini:
From: anu@ini.com
To: Max Darmawan
Subject: Undangan seminar
[message start]
Dengan hormat,
Bersama ini kami mengundang Bapak untuk hadir di seminar kami, uhuk! Uhuk! Uhuk!
Lho kok? Wah, malah ikutan diketik? Gimana nih? Hapus! Delete! Hmmm... close!
Halo, tech-support? Ini saya ngetik email malah semua omongan ikut masuk ke email. Apa? Jangan bilang apa? Kenapa kita nggak boleh bilang
[SEND command accepted]
[message end]
Akan lebih parah lagi jika suatu saat komputer sudah mampu membaca gelombang otak kita sebagai ganti keyboard dan mouse, terutama untuk orang-orang yang pikirannya suka kemana-mana:
From: anu@ini.com
To: Max Darmawan
Subject: Undangan seminar
[message start]
Dengan hormat,
Bersama ini kami mengundang Bapak untuk hadir, wah! Cakep bener tu cewek. Pegawai baru kali? Ngapain juga si Amat sok akrab? Ntar abis ini tanya HRD ah...
Lho? Kok masuk semua? Waduh! Delete! Delete! Wah, bisa dipecat nih kalau email ini sampai di
[SEND command accepted]
[message end]
Sabtu, 30 Agustus 2008
Sabtu, 23 Agustus 2008
(BO) Teroris jujur
Seorang teman yang baru saja kembali dari Amerika Serikat untuk urusan bisnis bercerita tentang betapa panjangnya proses yang harus dilewati orang asing yang ingin masuk ke negara paman Sam sekarang ini. Proses itu sudah dimulai sejak dalam pesawat, dilanjutkan dengan difoto, scan sidik jari, dan sebagainya sampai akhirnya selesai sekitar dua-tiga jam sesudahnya. Tapi yang paling menggelikan adalah sebuah kuesioner yang salah satu pertanyaannya adalah:
"Are you a terrorist? Yes/No".
"Are you a terrorist? Yes/No".
Sabtu, 16 Agustus 2008
Sabtu, 09 Agustus 2008
(SU) Kursus internet
Sabtu, 02 Agustus 2008
(SU)Positive Thinking
Harus saya akui, seorang teman saya, sebut saja namanya AB, sangat positif dalam berpikir.
Suatu saat, saya sudah lupa sebabnya, saya menceritakan pada AB sebuah kisah yang saya baca di majalah.
Seorang nenek berulang-tahun yang ke 80. Keluarganya lalu mengadakan sebuah acara reuni keluarga dirumah mereka untuk memperingati ulang tahun si nenek itu. Seluruh anak, menantu, cucu, bahkan cicitnya datang dan merayakan pesta ulang tahun nenek ini dengan meriah. Sepanjang hari anak-anak bermain dan berlarian di halaman, sementara para orang tua bertukar cerita dan memasak di dapur. Saat makan, seluruh anggota keluarga berkumpul dan suasana di meja sangat meriah.
Disore hari semua orang berkumpul di ruang keluarga dan mengobrol.
Kemudian, salah seorang cucu nenek itu bertanya, "Nek, dalam hidup nenek, saat mana yang paling membahagiakan bagi nenek?"
Si nenek menjawab,"Hari ini, Cu. Hari ini."
Sampai disini teman saya AB langsung menyahut,"Wah, bagus sekali cerita itu! Memang kita harus selalu berbahagia dihari ini. Bukan mengingat masa lalu atau berharap akan kebahagiaan dimasa depan. Kita harus bahagia hari ini. Saat ini."
Saya terdiam dan tidak melanjutkan cerita itu lagi. Saya tidak mau merusak positive thinking teman saya, karena sebenarnya dalam cerita itu si nenek sudah pikun dan sudah lupa masa mudanya dulu.
Suatu saat, saya sudah lupa sebabnya, saya menceritakan pada AB sebuah kisah yang saya baca di majalah.
Seorang nenek berulang-tahun yang ke 80. Keluarganya lalu mengadakan sebuah acara reuni keluarga dirumah mereka untuk memperingati ulang tahun si nenek itu. Seluruh anak, menantu, cucu, bahkan cicitnya datang dan merayakan pesta ulang tahun nenek ini dengan meriah. Sepanjang hari anak-anak bermain dan berlarian di halaman, sementara para orang tua bertukar cerita dan memasak di dapur. Saat makan, seluruh anggota keluarga berkumpul dan suasana di meja sangat meriah.
Disore hari semua orang berkumpul di ruang keluarga dan mengobrol.
Kemudian, salah seorang cucu nenek itu bertanya, "Nek, dalam hidup nenek, saat mana yang paling membahagiakan bagi nenek?"
Si nenek menjawab,"Hari ini, Cu. Hari ini."
Sampai disini teman saya AB langsung menyahut,"Wah, bagus sekali cerita itu! Memang kita harus selalu berbahagia dihari ini. Bukan mengingat masa lalu atau berharap akan kebahagiaan dimasa depan. Kita harus bahagia hari ini. Saat ini."
Saya terdiam dan tidak melanjutkan cerita itu lagi. Saya tidak mau merusak positive thinking teman saya, karena sebenarnya dalam cerita itu si nenek sudah pikun dan sudah lupa masa mudanya dulu.
Langganan:
Komentar (Atom)

